SOLUSI CERDAS PUTRA - PUTRI ANDA UNTUK MENGGAPAI CITA - CITA

Mari Belajar Tuk Meraih Masa Depan !

Bersama Rumah Pintar Ibu Nur WUJUDKAN CITA-CITA PUTRA-PUTRI ANAK ANDA.

Logo Kami

Solusi Cerdas Untuk Putra-putri Anda.

Tenaga Pengajar yang handal

Membuat putra-putri anda semangat dalam belajar.

Ingin seperti Mereka ?

Belajar ditempat kami menggunakan metode seperti tersebut (siswa belajar mandiri).

MARI BELAJAR SEKARANG JUGA

Kurang percaya diri jika belajar sendirian ? Kami Solusinya.

Minggu, 08 Januari 2017

Tangisan Sang Nabi....


Posted: 09-11-2017

Setiap pohon yang tidak berbuah, seperti pohon pinus dan pohon cemara, tumbuh tinggi dan lurus, mengangkat kepalanya ke atas, dan semua cabangnya mengarah ke atas. Sedangkan semua pohonnya yang berbuah menundukkan kepala mereka, dan cabang-cabang mereka mengembang ke samping.

Rasulullah adalah orang yang paling rendah hati, meskipun dia memiliki segala kebajikan dan keutamaan orang-orang dahulu kala dan orang-orang sekarang, dia seperti sebuah pohon yang berbuah. Menurut sebuah riwayat, beliau bersabda, “Aku diperintahkan untuk menunjukkan perhatian kepada semua manusia, untuk bersikap baik hati kepada mereka. Tidak ada Nabi yang sedemikian diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh manusia selain aku.”


Kita tahu bahwa beliau dilukai kepalanya, ditanggalkan giginya, lututnya berdarah karena lemparan batu, tubuhnya dilumuri kotoran, rumahnya dilempari kotoran ternak. Beliau di hina, dan di siksa dengan keji.

Saat beliau berdakwah di Thaif, tak ada yang didapatkannya kecuali hinaan dan pengusiran yang keji. Ketika Rasulullah menyadari usaha dakwahnya itu tidak berhasil, beliau memutuskan untuk meninggalkan Thaif. Tetapi penduduk Thaif tidak membiarkan beliau keluar dengan aman, mereka terus mengganggunya dengan melempari batu dan kata-kata penuh ejekan. Lemparan batu yang mengenai Nabi demikian hebat, sehingga tubuh beliau berlumuran darah.

Dalam perjalanan pulang, Rasulullah Saw. menjumpai suatu tempat yang dirasa aman dari gangguan orang-orang jahat tersebut. Di sana beliau berdoa begitu mengharukan dan menyayat hati. Demikian sedihnya doa yang dipanjatkan Nabi, sehingga Allah mengutus malaikat Jibril untuk menemuinya. Setibanya di hadapan Nabi, Jibril memberi salam seraya berkata, “Allah mengetahui apa yang telah terjadi padamu dan orang-orang ini. Allah telah memerintahkan malaikat di gunung-gunung untuk menaati perintahmu.” Sambil berkata demikian, Jibril memperlihatkan para malaikat itu kepada Rasulullah Saw.

Kata malaikat itu, “Wahai Rasulullah, kami siap untuk menjalankan perintah tuan. Jika tuan mau, kami sanggup menjadikan gunung di sekitar kota itu berbenturan, sehingga penduduk yang ada di kedua belah gunung ini akan mati tertindih. Atau apa saja hukuman yang engkau inginkan, kami siap melaksanakannya.”

Mendengar tawaran malaikat itu, Rasulullah Saw. dengan sifat kasih sayangnya berkata, “Walaupun mereka menolak ajaran Islam, saya berharap dengan kehendak Allah, keturunan mereka pada suatu saat nanti akan menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya.”

Ketika Makkah berhasil ditaklukkan, beliau berkata kepada orang-orang yang pernah menyiksanya, “Bagaimanakah menurut kalian, apakah yang akan kulakukan terhadapmu?” Mereka menangis dan berkata, “Engkau adalah saudara yang mulia, putra saudara yang mulia.” Nabi Saw. bersabda, “Pergilah kalian! Kalian adalah orang-orang yang dibebaskan. Semoga Allah mengampuni kalian.” (HR. Thabari, Baihaqi, Ibnu Hibban, dan Syafi’i).

Abu Sufyan bin Harits, sepupu beliau, lari dengan membawa semua anak-anaknya karena pernah menyakiti Rasul Saw., maka Ali bin Abi Thalib Ra. bertanya kepadanya, “Hai Abu Sufyan, hendak pergi kemanakah kamu?” Ia menjawab, “Aku akan keluar ke padang sahara. Biarlah aku dan anak-anakku mati karena lapar, haus, dan tidak berpakaian.”


Ali bertanya, “Mengapa kamu lakukan itu?” Ia menjawab, “Jika Muhammad menangkapku, niscaya dia akan mencincangku dengan pedang menjadi potongan-potongan kecil.”

Ali berkata, “Kembalilah kamu kepadanya dan ucapkan salam kepadanya dengan mengakui kenabiannya dan katakanlah kepadanya sebagaimana yang pernah dikatakan oleh saudara-saudara Yusuf kepada Yusuf, ….Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa). (QS. Yusuf [12]: 91).

Abu Sufyan pun kembali kepada Nabi Saw. dan berdiri di dekat kepalanya, lalu mengucapkan salam kepada beliau seraya berkata, Wahai Rasulullah, demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan engkau atas kami dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa). (QS. Yusuf [12]: 91).

Rasulullah Saw. pun menengadahkan pandangannya, sedang air matanya membasahi pipinya yang indah hingga membasahi jenggotnya. Rasulullah menjawab dengan menyitir firman-Nya, …Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu. Mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu) dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang. (QS. Yusuf [12]: 92).

Imam Bukhari meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah Saw. bersabda kepadanya, “Bacakan al-Quran kepadaku.”

Ibnu Mas’ud berkata, “Bagaimana aku membacakannya kepada Engkau, sementara al-Quran itu sendiri diturunkan kepada Engkau?”

“Aku ingin mendengarnya dari orang lain,” jawab beliau. Lalu Ibnu Mas’ud membaca surat an-Nisa hingga firman-Nya, Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti) apabila Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). (QS. an-Nisâ [4]: 41).

Begitu bacaan tiba pada ayat ini, beliau bersabda, “Cukup.”

Ibnu Mas’ud melihat ke arah beliau, dan terlihatlah olehnya bahwa beliau sedang menangis.

Dalam kisah ini kita memperoleh pelajaran berharga, bahwa Rasulullah Saw. sangat mencintai umat manusia. Beliau sangat mengharapkan agar orang-orang kafir itu beriman. Karena balasan kekafiran adalah neraka yang menyala-nyala. Rasulullah sendiri pernah melihat neraka. Dia melihat sungguh mengerikan neraka itu. Hingga ketika menyadari hal itu, mengalirlah airmatanya dengan deras.

Abu Dzar Ra. meriwayatkan dari Nabi Saw., bahwa beliau mendirikan shalat malam, sambil menangis dengan membaca satu ayat yang diulang-ulangi, yaitu, Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau juga. (QS. al-Maidah [5]: 118).

Dan diriwayatkan saat hari kiamat tiba, beliaulah orang yang pertama kali dibangkitkan. Yang diucapkannya pertama kali adalah, “Mana umatku? Mana umatku? Mana umatku?” Beliau ingin masuk surga bersama-sama umatnya. Beliau kucurkan syafaat kepada umatnya sebagai tanda kecintaan beliau terhadap mereka. Beliau juga sering berdoa, Allahumma salimna ummati. Ya Allah selamatkan umatku.

Keadaan diri Nabi Muhammad Saw. digambarkan Allah Swt. dalam firman-Nya, Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS. at-Taubah [9]: 129).

Alangkah buruknya akhlak kita bila tak mencintai Nabi, sebagaimana Nabi mencintai kita, berkorban untuk kita, dan meneteskan airmatanya untuk kita. Di sini, apakah kita hanya berdiam diri saat Nabi dihina, seolah kita bukan lagi umatnya. Apakah kita rela Nabi berdakwah seorang diri dan kemudian dilempari batu hingga berdarah-darah, sementara umatnya yang begitu banyak hanya bisa berdiam diri? Tangisan sang Nabi hendaknya menjadi pengingat kita, untuk lebih mencintainya, membelanya, bahkan berkorban nyawa untuknya, sebagaimana ia telah berkorban nyawa untuk kita agar kita selamat dari siksa neraka.Wallahu A'lam Bishawab...
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Rabu, 04 Januari 2017

Masa Lalu Akan Membuatmu Menjadi Diri Yang Kuat karena Bahagia Itu Sederhana, Kenapa Tak Melakukannya Dengan Sederhana

Posted: 05-01-2017

Empat Hari Sudah kita telah memasuki tahun yang baru, tahun 2017. Memasuki tahun baru ini tentunya kita telah meninggalkan satu masa dibelakang yang telah kita lalui dengan berbagai warna kehidupan baik suka maupun duka. Mungkin ada yang telah sukses dengan apa yang telah di impikan dan ada pula yang belum sampai ketujuan yang telah direncanakan sebelumnya. Jangan risau kawan karena kita masih punya waktu hingga detik ini untuk bisa memperbaikinya dan tuhan masih mengizinkan kau untuk memperbaikinya. Tanamkan dalam hati akan semua resahmu dengan kesungguhan yang kuat dan percayakan semua itu kepada tuhanmu dan tetaplah melangkah dalam usaha yang kuat maka kau akan menemukan apa yang kau cari. Memasuki tahun baru ini, Tegakan badan, tanamkan semangat lagi dan melangkah melaju menjadi diri lebih baik lagi dalam hal menjalani hidup ini.
Tak perlu kau membuang kenangan masa lalu yang kau anggap itu menyedihkan, mengecewakan ataupun menyakiti hatimu karena kenangan itu akan membuatmu menjadi lebih baik karena kenangan itu dapat kau belajar bagaimana caranya melakukannya dengan lebih baik lagi. Buka mata, buka harapan baru , rencana dan impian baru yang ingin kau raih, tak perlu kau meneteskan air mata hanya sebuah kenangan yang membuat dirimu gagal untuk mendapatkannya. Tak perlu kau menyesali dengan semua yang telah terjadi, tak perlu kau menyalahkan waktu dan dirimu karena kau telah melakukan kesalahan waktu itu. Jadikan semua itu pelajaran, ilmu dan pecutan bagi dirimu untuk belajar menerima dan bersyukur untuk hidup yang kau miliki agar kedepannya kau tak terjatuh lagi pada lubang yang sama dan dirimu semakin kokoh dalam menyikapi segala sesuatu yang terjadi dalam waktumu.
Banyak yang bilang jika bahagia itu mudah didapatkan, cukup tersenyum lepas maka sudah bisa merasakan kehadiran yang namanya bahagia itu. Namun entah kenapa banyak orang tidak bisa melakukannya karena keadaan yang begitu sulit dalam hidup mereka. Mungkin bagi mereka yang mengerti hidup Memang sich kedengarannya simple tapi namun pada kenyataannya untuk beberapa orang, bahagia ternyata cukup susah untuk dapat diwujudkan. Setiap orang tentunya tak dapat menikmati kebahagian karena beragai hal mulai Pekerjaan yang menumpuk dan waktu kerja yang sangat kejam membuat sebagian besar dari kita lupa menikmati hidup. Bagi Buat yang punya duit banyak, mungkin hal ini tidak terlalu susah dilakukan.
Namun bagi yang punya keuangan pas-pasan, mungkin sedikit sulit untuk melakukannya karena kita tau tak ada duit buat kepala menjadi pusing. Namun tidak semua kebahagian itu berasal dari uang saja, tapi banyak hal yang bisa membuatmu bahagia jika kau tak terlalu memikirkan kesulitan dalam hidup yang kau miliki. Seperti halnya Meluangkan waktu untuk beristirahat. Beristirahat dengan waktu yang cukup sebaiknya kita lakukan setiap hari. Ketika bekerja, usahakan untuk dapat memiliki waktu tidur sebentar sehingga dapat memberikan sedikit kesegaran pada tubuh. Dengan memberikan istirahat pada tubuh kita maka hati dan pikiran akan menjadi lebih tenang sehingga tercipta rasa lega yang melahirkan bahagia dihati kita nantinya. Lalu kita Harus belajar Tersenyum, Ya Mengumbar senyum adalah hal yang baik dan juga wajib kita lakukan sehingga dapat mengeluarkan aura positif diri kita dan juga orang-orang yang ada di sekitar kita. Dengan tersenyum kita tidak hanya membuat hidup kita lebih nikmat tapi juga dapat membuat kita lebih bahagia.
Hal yang bisa mendatangkan bahagia dalam hidup kita yaitu menjalani hobi, yah hobi juga dapat mendatangkan kebahagian pada diri anda. Melakukan sesuatu yang anda gemari tentunya sangat menyenangkan sehingga selesai anda melakukan itu maka hati anda akan menumpuk rasa lega dan akan mengalir hal yang positif untuk menjalani aktiviast rutin nantinya. Berkumpul bersama orang tersayang merupakan hal yang bisa mendatangkan kebahagian juga bagi anda. Jadi jangan hanya kita habiskan waktu kita hanya untuk bekerja saja, ruang waktu untuk berkumpul bersama keluarga, sahabat dan teman sehingga rasa bahagia dalam hati dapat tercipta nantinya. Masih banyak hal yang dapat anda lakukan untuk bisa membuat diri anda bahagia walaupun itu anda orang susah. Jangan habiskan waktu kita didunia hanya untuk mengeluh, menyesali dan juga iri dengan kebahagian orang lain. Tunjukan kepada mereka jika anda juga bisa bahagia dengan cara sederhana. Bahagia hidupmu maka impianmu semakin mudah untuk anda raih dan hati yang bahagia bentuk wujud jika kau selalu bersyukur dengan hidup yang diberikan oleh tuhan kepadamu.

Tak perlu kau membuang semua kenangan itu dan tak perlu juga kau membenci kenangan yang terjadi dalam hidupmu. Apakah itu kenangan baik ataupun buruk, kenangan tetaplah bagian dari hidupmu dan kau tak akan bisa menjadi seperti saat ini jika kau tak melewati kenangan seperti itu. Hari ini waktu yang begitu sulit untuk kau hadapi dank au tempuh namun percayalah hari ini akan menjadi saksi dimana dan kenangan yang sangat kau banggakan jika suatu hari nanti kau sukses melewatinya dengan baik. Jadi, Jalani hidupmu dengan berbagai kenangan karena itu baik bagi hidupmu. Semoga bermanfaat untuk anda semuanya, terima kasih.

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Ketika Media Sosial Di Jadikan Pedoman Oleh Manusia

Posted: 05-01-2017

Kita sangat memahami dan mengetahui jika masyarakat negeri ini mulai dari anak-anak hingga orang dewasa bahkan orang tua sekalipun telah terjerumus dalam pedoman yang salah dimana mereka telah menjadikan media sosial sebagai panutan dan keputusan salam menilai sesuatu. Tak mengira dan menelusuri itu benar atau salah, baik maupun buruk yang jelas media sosial telah menjadi tempat untuk mereka menimba berbagai informasi yang kadang tak berefek baik bagi mereka hingga menimbulkan faham yang salah dan timbullah keresahan dalam diri dan lingkungan sekitar.



Mereka terlalu mengTuhankan Media sosial dimana mereka apa-apa selalu mengambil pedoman di media sosial, menuliskan sesuatu yang berbau sara, menyebarkan fitnah yang tak sewajarnya dan sikap kekerasan lainnya yang tentunya akan dilihat orang yang ada di media sosial tersebut. Tanpa anda sadari jika apa yang bagikan di media sosial memiliki pengaruh besar untuk orang lain dan bisa jadi informasikan yang kau bagikan menjadi bahan rujukan untuk mereka berbuat sedemikian juga nantinya.

Media sosial telah mengambil kendali dalam kehidupan di era saat ini. Lihat saja para pelajar kita yang begitu lalai dengan pelajarannya, lihat saja peran orang tua dan guru tak lagi menjadi panutan bagi mereka, mereka lebih memahami panutan yang ada di media sosial daripada pendidikan yang sesungguhnya dan begitu juga orang dewasa bahkan orang tua sekalipun begitu sangat sering menjadikan media sosial untuk melakukan perbuatan yang tak seharusnya di bagikan di media sosial.
Lihat berbagai isu yang terjadi belakangan ini terjadi karena berbagai informasi hoax yang dipublish dimedia sosial. Dimana saat dibagikan awal perkataanya begini namun lama kelamaan hal itu bisa saja merubah dari satu orang ke orang lain dan kita sangat mengetahui jika sekedar informasi bisa berubah begitu cepat dan pengaruhnya sangat signifikan dalam negeri ini, Alhasil negeri ini dan lingkungan salam persatuan akan mengalami fase perpecahan karena diadu domba oleh media sosial yang seharusnya dijadikan media hiburan menciptakannya bukan ladang untuk saling membahayakan.
Jadi gunakanlah media sosial dengan tidak mengubah arti dari adanya media sosial tersebut. Jangan jadikan media sosial pedoman untuk dijadikan bahan untuk mengantungi kehidupan ini dan bijaklah salam membagikan segala sesuatu didalamnya agar tak menjadi polemik dalam negeri ini. Semoga bermanfaat untuk anda semuanya, terima kasih.

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Cerpen : Andai Saja Aku Punya Pilihan Hidup Sepertimu

Posted : 05-01-2017

         Banyak yang bilang hidup itu pilihan, Namun tidak denganku karena aku tak punya pilihan lain dan tak sempat memilih ketika dan pilihan itu hanya satu dan mau tidak mau harus tetap aku jalani. Merasa hidup yang ku jalani ini tak adil itu terlalu singkat saja untuk aku nilai dan tak lazim rasanya jika aku menyalahkan kedua orang tuaku ataupun tuhanku sendiri. Tak ada pantasnya aku berbuat sedemikian itu karena aku tau yang namanya hidup kadang berjalan tak sesuai dengan apa yang diharapkan, namun apapun itu aku akan tetap berjalan, melangkah demi langkah walaupun itu sulit bagiku tapi aku tak akan biarkan mereka tertawa dalam ketidakpastian hidupku ini. Kadang terjatuh, terjatuh lagi hingga aku begitu segan untuk bangkit kembali. Ingin rasanya aku pergi jauh dari keramaian dunia ini, kadang pula ingin aku beranjak pergi menemukan tuhanku untuk sekedar bertanya kepadaNYA, Apa yang terjadi dengan kehidupanku ini dan kenapa aku memiliki kehidupan yang beda dengan mereka yang menurutku sama sepertiku manusia yang tak sempurna.

          Setiap waktu aku selalu berpikir, kenapa aku harus merasakan berbagai kegelisahan, kesedihan dan duka yang kadang menindas begitu kejam menyelimuti diri, Ada denganku dan apa yang membuat hidupku begitu sulit hingga saat ini. Seandainya aku mampu memilih dan bisa memiliki banyak pillihan yang lain, sudah pasti aku akan sedikit mampu tersenyum walaupun itu sejenak waktu, namun aku tak bisa memilih karena pilihanku hanya satu yaitu menjalani satu arah kehidupan dan mau tidak mau tetap harus aku jalani. Kesedihan memang sangat aku rasakan, ketika sesuatu yang harus aku jalani bukan saja sulit namun kadang menemukan tembok penghalang yang begitu tinggi untuk mampu aku lewati, kadang aku tersentak diam ketika cobaan dan rintangan begitu pekat mengelilingi diri, namun aku harus bertahan dan aku harus tetap berdiri walau tubuh ini kadang tak kuasa menahan pedihnya waktu minimpa hati.


       Mengeluh, menyesali dan marah kepada hidup yang aku jalani ini,mungkin tidak bagiku, namun bagi mereka yang ada diseklilingku itu yang membuatku kadang sedikit merasa miris dan sedih karena mereka berharap aku menjadi kakak yang terbaik untuk mereka untuk dapat memberikan mereka kehidupan yang lebih baik lagi ketika keadaan tak mampu lagi mereka alihkan untuk mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan pada masa mereka seharusnya mendapatkan pendidikan dan keluluasaan masa remaja. Akuharus berjuang untuk mereka, aku harus menjelma menjadi seorang ayah walaupun aku bukanlah seorang ayah. Aku harus belajar menjadi seorang ibu walaupun aku bukanlah seorang ibu dan aku harus mampu membimbing mereka ketika kedua orang tuaku tak lagi ada disamping mereka. Berat memang untuk menjalani kehidupan ketika orang tua tak mampu lagi memberikan apa yang anaknya berikan.

        Bukan salah mereka sehingga itu terjadi pada anaknya namun bagiku ketika Ayahku tiada, maka ibuku menjadi wanita yang tangguh untuk menjalni kehidupannya sebagai ayah dan ibu dan aku sebagai anak laki-laki pertama harus berperan menjadi seorang yang mampu memberikan yang terbaik adik-adikku. Menurutku itu bukan pekerjaan yang mudah untuk aku jalani, Hingga saat inipun aku masih saja tak berubah, bukan tak bersyukur atas segala yang tuhan berikan kepadaku, namun aku merasa aku semakin jauh dari lintasan jalur untuk merasa, apakah aku masih mampu bersyukur ketika keadaan membuatku semakin jauh dari jalanNYA, atau bagaimana aku berjalan dengan aman ketika jalan yang aku lewati penuh dengan duri dan ranjau yang setiap saat siap melukaiku. Mengeluh, bukan itu terjadi dalam hidupku, namun aku hanya kadang merasa begitu lelah dengan apa yang terjadi dalam waktukku.

        Merasa gagal dan tidak berguna itu terlalu dini untuk aku dapatkan, namun kadang aku hanya merasa ingin pergi beranjak dari keadaan ini agaraku mampu sedikit merasa lega dan bahagia seperti mereka yang masih sempat tersenyum ketika keadaan tak berpihak kepada mereka. Menunggu waktunya akan tiba, mungkin aku akan bersabar menunggunya, karena itulah yang bisa aku lakukan dalam hidupku. Saat ini aku dan seterusnya aku tak berpikir untuk bisa hidup utuk hari esok karena aku tak sempat memikirkannya dan tak seperti mereka yang masih mampu berencana untuk mengapai sesuatu yang mereka impikan. Bagiku aku tak bisa berbuat sedemikian karena untuk melewati hari ini saja aku harus berjuang dengan berbagai masalah dan cobaan datang silih berganti dan kadang membuatku begitu sulit untuk berpikir, apakah aku bisa sampai pada hari esok.

      Entahlah, Yang jelas aku tak seperti kalian yang mampu dan memiliki pilihan lainuntuk mampu bertahan hidup dalam dunia yang fana ini. Namun aku tak akan menyerah begitu saja seperti yang pernah kau lakukan walaupun kau memiliki berbagai warna kehidupan. Aku tak akan berhenti disini saja hanya karena aku memiliki satu jalan dalam kehidupan ini karena aku yakin dan percaya jika tuhanku tak akan memberikan sebuah cobaan dalam kehidupan ini melebihi dari batas akal dan hatiku. Aku akan tetap berjalan sebagaimana aku menjalani hari sebelumnya, aku akan tetap berdiri walaupun kakiku kadang begitu lelah untuk menahanya dan aku akan mencoba untuk bisa tersenyum walau kadang senyum itu kata lain dari sedih yang aku rasa. Akan aku aku jalani apapun yang tuhan takdirkan dalam hidupku karena aku tak akan bisa menolak dan merasa terhina jika aku harus berhenti disini tanpa bukti yang membuatku mampu menjawab ketika pertanyaan itu nanti datang kepadaku.

       Jikapun aku kalah, AKu pastikan kekalahanku bukan karena aku diam saja, namun kekalahanku merupakan kekalahan yang merasa aku bangga karena sudah berusaha untuk berjuang menjadi seorang pemenang. Jikapun aku gagal dan tak mendapatkan apa-apa hingga sisa waktuku didunia ini, maka aku tak akan merasa menyesal dan menyalahkan siapapun dalam hidupku karena aku sangat memahami jika aku telah menjalaninya dengan baik dan hanya saja aku kurang beruntung untuk mendapatkanya. Dan aku sangat berharap, jika kau kau memiliki kehidupan yang lebih baik dariku, maka patut bersyukur atas segala nikmat yang tuhan berikan kepadamu. Jangan kecewakan kedua orang tuanmu karena kau telah menjadi orang yang sukses karena itu tidak baik untuk kau lakukan dan jangan pula kau merasa sedih jika hidup yang kau miliki tak sesuai dengan apa yang kau inginkan karena sejati hidup adalah untuk dijalani dan berusaha dan tuhan yang akan menentukan apa yang akan diberikan kepadamu kelak.

        Semoa saja kau merasa lebih baik ketika membaca tulisan ini dan berharap kau menjadi orang yang jauh lebih baik dariku karena aku yakin kau bisa melakukannya dank au bisa melewati waktumu walaupun itu sulit bagimu. Percayalah dan yakinlah jika kau akan menerima hasilnya nanti dan aku berharap itu akan terjadi dalam hidupku juga dan aku akan menunggu waktu itu datang kepadaku.

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Selasa, 03 Januari 2017

Presiden Ideal Untuk Indonesia

 POSTED


Oleh Ustadz Abu Ihsan al-Atsari
Al-Mawardi rahimahullah dalam kitab al-Ahkâm ash-Shulthaniyah menyebutkan syarat-syarat seorang pemimpin, di antaranya:
1. Adil dengan ketentuan-ketentuannya.
2. Ilmu yang bisa mengantar kepada ijtihad dalam menetapkan permasalahan     kontemporer dan hukum-hukum.
3. Sehat jasmani, berupa pendengaran, penglihatan dan lisan, agar ia dapat langsung menangani tugas kepemimpinan.
4. Normal (tidak cacat), yang tidak menghalanginya untuk bergerak dan bereaksi.
5. Bijak, yang bisa digunakan untuk mengurus rakyat dan mengatur kepentingan negara.
6. Keberanian, yang bisa digunakan untuk melindungi wilayah dan memerangi musuh.
Nilai lebih dalam hal kebijakan, kesabaran, keberanian, sehat jasmani dan rohani serta kecerdikan merupakan kriteria yang mutlak harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Tanpa memiliki kriteria itu, seorang pemimpin akan kesulitan dalam mengatur dan mengurus negara dan rakyatnya.
Muhammad al-Amin asy-Syinqithi menjelaskan, “Pemimpin haruslah seseorang yang mampu menjadi Qadhi (hakim) bagi rakyatnya (kaum muslimin). Haruslah seorang alim mujtahid yang tidak perlu lagi meminta fatwa kepada orang lain dalam memecahkan kasus-kasus yang berkembang di tengah masyarakatnya!”[Adhwâ’ul-Bayân, I/67]
Ibnul-Muqaffa’ dalam kitab al-Adabul-Kabir wa Adabush-Shaghir menyebutkan pilar-pilar penting yang harus diketahui seorang pemimpin: “Tanggung jawab kepemimpinan merupakan sebuah bala` yang besar. Seorang pemimpin harus memiliki empat kriteria yang merupakan pilar dan rukun kepemimpinan. Di atas keempat kriteria inilah sebuah kepemimpinan akan tegak, (yaitu): tepat dalam memilih, keberanian dalam bertindak, pengawasan yang ketat, dan keberanian dalam menjalankan hukum”.
Lebih lanjut ia mengatakan: “Pemimpin tidak akan bisa berjalan tanpa menteri dan para pembantu. Dan para menteri tidak akan bermanfaat tanpa kasih sayang dan nasihat. Dan tidak ada kasih sayang tanpa akal yang bijaksana dan kehormatan diri”.
Dia menambahkan: “Para pemimipin hendaklah selalu mengawasi para bawahannya dan menanyakan keadaan mereka. Sehingga keadaan bawahan tidak ada yang tersamar baginya, yang baik maupun yang buruk. Setelah itu, janganlah ia membiarkan pegawai yang baik tanpa memberikan balasan, dan janganlah membiarkan pegawai yang nakal dan yang lemah tanpa memberikan hukuman ataupun tindakan atas kenakalan dan kelemahannya itu. Jika dibiarkan, maka pegawai yang baik akan bermalas-malasan dan pegawai yang nakal akan semakin berani. Jika demikian, kacaulah urusan dan rusaklah pekerjaan”.
Ath-Thurthusyi dalam Sirâjul-Mulûk mengatakan: “Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:
وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ
“Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebagaian yang lain, pasti rusaklah bumi ini” [al-Baqarah/2:251].
Yakni, seandainya Allah tidak menegakkan pemimpin di muka bumi untuk menolak kesemena-menaan yang kuat terhadap yang lemah dan membela orang yang dizhalimi atas yang menzhalimi, niscaya hancurlah orang-orang yang lemah. Manusia akan saling memangsa. Segala urusan menjadi tidak akan teratur, dan hiduppun tidak akan tenang. Rusaklah kehidupan di atas muka bumi. Kemudian Allah menurunkan karunia kepada umat manusia dengan menegakkan kepemimpinan. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan, tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. – al-Baqarah/2 ayat 251- yaitu dengan mengadakan pemerintahan di muka bumi, sehingga kehidupan manusia menjadi aman.
Karunia Allah Azza wa Jalla atas orang yang zhalim, ialah dengan menahan tangannya dari perbuatan zhaliman. Sedangkan karunia-Nya atas orang yang dizhalimi, ialah dengan memberikan keamanan dan tertahannya tangan orang yang zhalim terhadapnya.
Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu telah meriwayatkan, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الإِمَامُ العَادِلُ وَالصَّائِمُ حَتَّى يَفْطُرَ وَدَعْوَةُ المَظْلُوْمِ.
“Tiga doa yang tidak tertolak: Doa pemimpin yang adil, orang yang puasa hingga berbuka, dan doa orang yang dizhalimi” [2].
Diriwayatkan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِِ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ حُسْنٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
“Tujuh orang yang akan dinaungi Allah pada hari yang tiada naungan selain naungan-Nya: (1) Seorang imam yang adil (2) Seorang pemuda yang menghabiskan masa mudanya dengan beribadah kepada Allah. (3) Seorang yang hatinya selalu terkait dengan masjid. (4) Dua orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah. (6) Lelaki yang diajak seorang wanita yang cantik dan terpandang untuk berzina lantas ia berkata: “Sesungguhnya aku takut kepada Allah”. (5) Seorang yang menyembunyikan sedekahnya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya. (6) Seorang yang berdzikir kepada Allah seorang diri hingga menetes air matanya.” [HR. Bukhari dan Muslim]
Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata,”Amal seorang imam yang adil terhadap rakyatnya sehari, lebih utama daripada ibadah seorang ahli ibadah di tengah keluarganya selama seratus atau lima puluh tahun.”
Qeis bin Sa’ad berkata,”Sehari bagi imam yang adil, lebih baik daripada ibadah seseorang di rumahnya selama enam puluh tahun.”
Masruq berkata,”Andaikata aku memutuskan hukum dengan hak sehari. maka itu lebih aku sukai daripada aku berperang setahun fi sabilillah.”
Diriwayatkan bahwa Sa’ad bin Ibrâhîm, Abu Salamah bin Abdurrahmân, Muhammad bin Mush’ab bin Syurahabil dan Muhammad bin Shafwan berkata kepada Sa’id bin Sulaiman bin Zaid bin Tsabit: “Menetapkan hukum secara hak satu hari, lebih utama di sisi Allah, daripada shalatmu sepanjang umur”.
Kebenaran perkataan ini akan nampak jelas, jika melihat kebaikan yang didapatkan rakyat karena kebaikan pemimpinnya.
Wahab bin Munabbih rahimahullah berkata,”Apabila seorang pemimpin berkeinginan melakukan kecurangan atau telah melakukannya, maka Allah akan menimpakan kekurangan pada rakyatnya di pasar, di sawah, pada hewan ternak dan pada segala sesuatu. Dan apabila seorang pemimpin berkeinginan melakukan kebaikan dan keadilan atau telah melakukannya niscaya Allah akan menurunkan berkah pada penduduknya.”
Umar bin ‘Abdul-Aziz rahimahullah berkata,”Masyarakat umum bisa binasa karena ulah orang-orang (kalangan) khusus (para pemimpin). Sementara kalangan khusus tidaklah binasa karena ulah masyarakat. Kalangan khusus itu adalah para pemimpin. Berkaitan dengan makna inilah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً
“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu” [al-Anfâl/8:25].
Al-Walid bin Hisyam berkata,”Sesungguhnya rakyat akan rusak karena rusaknya pemimpin, dan akan menjadi baik karena baiknya pemimpin.”
Sufyan ats-Tsauri berkata kepada Abu Ja’far al-Manshur: “Aku tahu, ada seorang lelaki yang bila ia baik, maka umat akan baik; dan jika ia rusak, maka rusaklah umat.” Abu Ja’far al-Manshur (ia adalah pemimpin) bertanya: “Siapa dia?” Sufyan menjawab: “Engkau!”
Pemimpin yang paling baik ialah pemimpin yang ikut berbagi bersama rakyatnya. Rakyat mendapat bagian keadilan yang sama, tidak ada yang diistimewakan. Sehingga pihak yang merasa kuat tidak memiliki keinginan melakukan kezhalimannya. Adapun pihak yang lemah tidak merasa putus asa mendapatkan keadilan. Dalam sebuah kata-kata hikmah disebutkan: Pemimpin yang baik, ialah pemimpin yang orang-orang tak bersalah merasa aman dan orang-orang yang bersalah merasa takut. Pemimpin yang buruk, ialah pemimpin yang orang-orang tak bersalah merasa takut dan orang-orang yang bersalah merasa aman.”
Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu berkata kepada al-Mughirah ketika mengangkatnya menjadi gubernur Kufah: “Hai Mughirah, hendaklah orang-orang baik merasa aman denganmu dan orang-orang jahat merasa takut terhadapmu”.
Dalam sebuah kata-kata hikmah disebutkan: Seburuk-buruk harta, ialah yang tidak diinfakkan. Seburuk-buruk teman, ialah yang lari ketika dibutuhkan. Seburuk-buruk pemimpin, ialah pemimpin yang membuat orang-orang baik takut. Seburuk-buruk negeri, ialah negeri yang tidak ada kemakmuran dan keamanan. Sebaik-baik pemimpin, ialah pemimpin yang seperti burung elang yang dikelilingi bangkai, bukan pemimpin yang seperti bangkai yang dikelilingi oleh burung elang.
Oleh karena itu dikatakan, pemimpin yang ditakuti oleh rakyat lebih baik daripada pemimpin yang takut kepada rakyat.
Seorang pemimpin, hendaklah juga memiliki sifat pemaaf. Maaf dari orang yang kuat adalah fadhilah. Sifat pemaaf yang dimiliki pemimpin, ibarat mahkota bagi seorang raja. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengatakan:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
“Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh”. [al-A’râf/7:199].
Demikian pula firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menganjurkan memberi maaf:
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. [Ali ‘Imrân/3:134].
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ
“Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf” [asy-Syûra/42 : 37], kecuali bila yang dilanggar itu adalah hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala.
‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata,”Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membalas dendam terhadap kezhaliman yang dilakukan terhadap beliau. Hanya saja, bila sesuatu dari hukum Allah dilanggar, maka tidak ada satupun yang dapat menghadang kemarahan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Ketika Uyainah bin Hishan masuk menemui Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Hai Ibnul-Khaththab, demi Allah, engkau tidak memberi kami secara cukup dan engkau tidak menghukum di antara kami secara adil!” Marahlah Umar Radhiyallahu anhu dan beliau ingin memukulnya. Salah seorang saudaranya berkata: “Hai Amirul- Mukminin, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman :
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
“Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh” [al-A’raaf 7/199], dan sesungguhnya dia ini termasuk orang bodoh.
Demi Allah, ketika ia mendengar ayat itu dibacakan, Umar tidak jadi memukulnya. Karena Umar seorang yang sangat komitmen mengikuti Kitabullah.
Seorang pemimpin hendaklah memiliki sifat kasih sayang. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اِرْحَمُوْا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
“Sayangilah orang-orang di bumi, niscaya Allah yang ada di langit akan menyayangimu”. [4]
Orang yang paling berhak menjadi pemimpin ialah yang paling kasih lagi paling penyayang. Sebaik-baik pemimpin ialah yang bisa menjadi teladan dan pemberi hidayah bagi rakyatnya, dan seburuk-buruk pemimpin ialah pemimpin yang menyesatkan. Dahulu dikatakan, bahwa rakyat berada di bawah agama pemimpinnya. Jika bagus agama pemimpinnya, maka bagus pulalah agama rakyatnya. Jika kacau agama pemimpinnya, maka kacau pulalah agama rakyatnya.
Dalam hadits Tsauban Radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda:
إِنَّ مِمَّا أَتَخَوَّفُ عَلَى أُمَّتِي أَئِمَّةً مُضِلِّينَ
“Sesungguhnya, yang paling aku khawatirkan atas dirimu ialah imam-imam yang menyesatkan”. [Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan At-Tirmidzi, ia berkata: Hadits ini hasan shahîh]
Di dalam kitab ash-Shahîh disebutkan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
“Sesungguhnya, Allah tidak mengangkat ilmu sekaligus dari umat manusia, namun Allah mengangkatnya dengan mewafatkan para ulama. Sehingga apabila tidak lagi tersisa seorang pun ulama, manusia mengangkat orang-orang jahil sebagai pemimpin. Ketika ditanya, mereka mengeluarkan fatwa tanpa dasar ilmu. Akhirnya mereka sesat lagi menyesatkan” [HR. Bukhari].
Imam ath-Thurthûsyi rahimahullah berkata,”Resapilah hadits ini baik-baik. Sesungguhnya, musibah menimpa manusia bukan karena ulama, bila para ulama telah wafat lalu orang-orang jahil mengeluarkan fatwa atas dasar kejahilannya, saat itulah musibah menimpa manusia.”
Ia melanjutkan perkataannya: “Umar Ibnul-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu telah menerangkan maksud tersebut. Dia berkata,’Seorang yang amanat tidak akan berkhianat. Hanya saja pengkhianat diberi amanat, lantas wajar saja kalau ia berkhianat’.”
Wallahu a’lam bish-Shawab.
[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XII/1429H/2008M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Alamat Jl. Solo-Puwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183, Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[2]. HR. at Tirmidzi dan Ibnu Majah. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan Ibnu Majah, no. 1432
[4]. HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh al Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan at Tirmidzi, no. 1924
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين