SOLUSI CERDAS PUTRA - PUTRI ANDA UNTUK MENGGAPAI CITA - CITA

Mari Belajar Tuk Meraih Masa Depan !

Bersama Rumah Pintar Ibu Nur WUJUDKAN CITA-CITA PUTRA-PUTRI ANAK ANDA.

Logo Kami

Solusi Cerdas Untuk Putra-putri Anda.

Tenaga Pengajar yang handal

Membuat putra-putri anda semangat dalam belajar.

Ingin seperti Mereka ?

Belajar ditempat kami menggunakan metode seperti tersebut (siswa belajar mandiri).

MARI BELAJAR SEKARANG JUGA

Kurang percaya diri jika belajar sendirian ? Kami Solusinya.

Senin, 01 Agustus 2016

Kesulitan Belajar Pada Anak


sulit_belajar3.jpg
Posted: 02-08-2016
K
esulitan belajar adalah gangguan neurologis yang mempengaruhi kemampuan otak untuk memahami, mengingat, dan mengolah informasi, sehingga menimbulkan kesulitan dalam bidang akademis, terutama dalam membaca, menulis, dan berhitung.
Gangguan neurologis dapat menyebabkan kesulitan belajar jika berkaitan dengan fungsi persepsi visual, bahasa, motorik dan atensi. Contohnya seperti anak sulit konsentrasi, motivasi belajar kurang atau anak tidak kooperatif. Seperti yang dikutip dari National Institute of Health, yang mengatakan bahwa 15% dari populasi warga Amerika Serikat mengalami kesulitan belajar.
Biasanya kecerdasan umum berfungsi pada taraf rata-rata hingga sangat cerdas. Gangguan neurologis seringkali memiliki gangguan lebih dari satu area yang bersifat permanen, namun hal ini dapat diminimalisir dengan pola pengasuhan & pendidikan yang tepat. Gangguan ini biasanya hanya menimbulkan gangguan emosional.
Penyebab
Faktor penyebab dari kesulitan belajar sangat beragam dan sulit untuk diidentifikasi. Biasanya faktor penyebab merupakan interaksi antara faktor biologis dan lingkungan.
1.  Faktor Biologis
Faktor biologis yang berkontribusi pada kesulitan belajar:
©      Brain injury
Penyebab brain injury sangat beragam sekali, seperti kecelakaan, sakit : encephalitis, meningitis, tumor, hypoglycemia, malnutrisi, tercemar bahan kimia beracun, radiasi, kekurangan oksigen berat, penyakit selama kehamilan, seperti diabetes, ginjal, measles dan prematur.
©      Gangguan dalam perkembangan otak
Gangguan ini biasanya terjadi pada struktur otak yang berbeda dan aktivitas listrik dan metabolisme otak yang berbeda. Gangguan ini biasanya dapat menyebabkan:
  • Gangguan fungsi bahasa (membaca, menulis, bicara) 
  • Gangguan  pemahaman dan ingatan verbal
  • Gangguan dalam mengolah informasi non verbal: pemahaman waktu, daya bayang ruang, persepsi visual, ingatan visual
  • Gangguan motorik: koordinasi gerak, kontrol gerakan, perencanaan gerak, artikulasi
  • Sulit memahami inti persoalan

©      Neurochemical imbalances

Gangguan chemical imbalances biasanya terjadi pada neurotransmitter, yaitu syaraf otak yang berfungsi sebagai pengantar pesan pada komunikasi antar sel otak. Gangguan ini dapat mempengaruhi kemampuan sel otak untuk berfungsi secara tepat, sehingga menyebabkan gangguan pemusatan perhatian, mudah terdistraksi dan impulsif.
©      Herediter (Keturunan)
Anak dengan kesulitan belajar jika ditelusuri biasanya memiliki anggota keluarga lain yang juga mengalami kesulitan belajar atau gangguan sejenis. Penelitian pada anak kembar identik yang mengalami kesulitan membaca:
©  40% disebabkan masalah genetik
©  35% disebabkan pengaruh lingkungan yang sama
©  25% lain-lain

2.  Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan sangat menentukan tingkat kesulitan belajar.
  Pengaruh lingkungan rumah meliputi: stimulasi, dukungan emosional, pengembangan motivasi belajar, nutrisi dan kesehatan, kedisiplinan dan tekanan emosi.
► Pengaruh lingkungan sekolah meliputi: kesempatan belajar siswa, perbandingan jumlah guru dengan siswa dalam satu kelas, kemampuan guru dalam menyampaikan materi pelajaran serta metode dan strategi belajar.
Sehingga anak dengan kesulitan belajar akan membutuhkan kelas, kurikulum, dan guru yang tepat.
Jenis-Jenis Kesulitan belajar
Ada beberapa kategori jenis kesulitan belajar, yaitu :
1.     Dyslexia, yaitu kesulitan mengolah bahasa.
Masalah dalam membaca, menulis, mengeja dan bicara.
2.     Dyscalculia, yaitu kesulitan dalam berhitung (matematika).
Masalah dalam mengerjakan persoalan matematika, memahami waktu, memahami uang.
3.    Dysgraphia, yaitu kesulitan dalam menulis.
Masalah dalam menulis, mengeja, organisasi ide.
4.    Dyspraxia (gangguan sensori Integrasi), yaitu kesulitan dalam motorik halus.
Masalah dalam koordinasi mata dan tangan, keseimbangan, manual dexterity.
5.    Auditory processing disorder, yaitu kesulitan membedakan bunyi.
Masalah dalam membaca, pemahaman, bahasa.
6.     Visual processing disorder, yaitu kesulitan dalam menginterpretasi informasi visual.
Masalah dalam membaca, berhitung, memahami peta, diagram, simbol, gambar.
Gangguan perkembangan dan kesulitan belajar
*    AD/HD
gangguan neurologis yang menyebabkan:
§ Sulit memusatkan perhatian
§ Impulsif
§ Hiperaktivitas
*    Autistic Spectrum Disorder
§ Gangguan komunikasi
§ Gangguan perkembangan sosial
§ Gangguan tingkah laku

Tanda-Tanda Kesulitan Belajar
Adapun tanda-tanda yang bisa dijadikan acuan untuk mengetahui adanya masalah kesulitan belajar yaitu : keterlambatan dalam perkembangan, inkonsistensi hasil, hilangnya minat belajar anak, prestasi tidak sesuai dengan potensi, munculnya gangguan tingkah laku atau gangguan emosi, serta menurunnya rasa percaya diri anak.
Sebagai orangtua,  yang perlu diketahui adalah kondisi fisik dan kesehatan yang terkait potensi belajar keseluruhan, area yang mengalami gangguan/jenis kesulitan belajar, kelebihan yang dimiliki anak, dukungan akademik, sosial dan emosional yang diperlukan anak.
Lingkungan sekolah sangat berperan sekali dalam upaya untuk mengatasi kesulitan belajar pada anak, yaitu dengan karakteristik seperti perbandingan jumlah siswa dan guru tidak terlalu besar, distraksi yang minimal, kemampuan guru yang memadai, situasi non kompetitif, fokus pada kemampuan dasar, fleksibilitas dalam cara mengajar, target yang jelas, dan pengawasan yang efektif terhadap hasil belajar serta pemberian feedback yang positif secara berkala.
Adapun program pendidikan yang dapat dikembangkan oleh guru  di sekolah, antara lain :
1. Di Kelas : mengatur tempat duduk (di dekat guru dan papan tulis), menyediakan tambahan waktu untuk menjawab pertanyaan atau menyelesaikan tugas, menyediakan salinan catatan dari materi yang dipelajari, memperbolehkan penggunaan tape recorder untuk merekam materi, memperbolehkan penggunaan kalkulator, menyediakan komputer, memperbolehkan alternatif kegiatan, memberikan tanda-tanda penting pada bacaan atau lembar kerja, memberikan instruksi baik verbal maupun tertulis, menyediakan alat-alat visual (jumlah tergantung pada jenis gangguan), menyediakan tabel matematika, daftar rumus, peta, dan lainnya (hindari meminta anak hanya mengingat), adanya teman yang dipasangkan untuk membantu memahami materi dan tugas, dan mengulas materi tertulis serta melakukan pengulangan-pengulangan.
2. Saat Ujian: memperbolehkan alternatif tempat (di perpustakaan, resource room, di rumah), membuat jadwal yang fleksibel (setelah sekolah, ujian bertahap), memperpanjang batasan waktu, memperbolehkan pembacaan instruksi & pertanyaan, membacakan kembali pertanyaan dalam bentuk yang lebih sederhana, memperbolehkan anak menjawab pertanyaan secara verbal, tidak hanya tertulis, memberikan satu jenis tugas (hanya esai/multiple choice), memperbolehkan penggunaan kalkulator, memperbolehkan penggunaan catatan rumus, pemanfaatan komputer dalam pengerjaan tes, dan memperbolehkan jawaban pada lembar soal, tidak di lembar jawaban untuk komputer, serta mengurangi jumlah pertanyaan atau persoalan.
3. Pekerjaan Rumah: memberikan PR tertulis (hindari pemberian PR secara verbal atau meminta anak untuk menyalin dari papan tulis), membacakan tugas/pertanyaan, menggunakan komputer, memberikan tanda pada bacaan yang penting, menuliskan soal dengan bahasa yang lebih sederhana, memberikan alternatif dalam pemberian bacaan, memperbolehkan pengerjaan tugas dalam bentuk rekaman, tidak tertulis serta mengurangi  jumlah pertanyaan dan panjangnya tugas menulis.
Sedangkan metode pendidikan secara individual dapat dilakukan dengan cara memberikan program yang berisi pengajaran & penguatan kemampuan dasar, yaitu melalui instruksi individual, latihan dan pengulangan serta materi pengajaran khusus. Sehingga dapat memungkinkan anak untuk memahami pelajaran di kelas, membantu anak mengembangkan strategi belajar yang sesuai dan membantu anak mengatasi masalah tingkah laku dan emosi.
Dalam mengatasi kesulitan belajar pada anak, hendaknya orangtua melibatkan para ahli profesional. Adapun para ahli yang bisa dilibatkan dalam mengatasi masalah ini antara lain : psikolog, neurolog, konselor pendidikan, terapis remedial, terapis okupasi dan terapis wicara, tergantung kebutuhan anak.
Strategi Penanganan
Strategi agar sukses dalam menangani anak dengan kesulitan belajar, yaitu dengan mengembangkan struktur dan cara belajar yang tepat, dengan kurikulum yang sesuai dengan kemampuan anak, fokus dengan kemampuan dasar anak, memanfaatkan teknologi yang ada, menghindari kericuhan dalam pengerjaan tugas dan bersikap tenang.
Adapun 3 cara belajar yang dapat diterapkan antara lain :
1. Cara belajar visual, yaitu belajar dengan cara melihat atau membaca, memahami materi lebih baik dalam bentuk visual dibandingkan verbal (catatan tertulis, diagram, grafik, peta, gambar), senang menggambar, membaca, menulis, mudah mengeja dan teratur.
Kiat belajar yang dapat diterapkan antara lain dengan menggunakan buku, film, komputer, alat-alat visual dan kartu, menandai catatan penting dengan warna atau tanda visual lainnya, menggunakan diagram, daftar, grafik, dll, atau menggunakan gambar dan ilustrasi, berwarna akan lebih menarik serta melakukan pencatatan di kelas.
2. Cara belajar auditory, yaitu belajar dengan cara mendengarkan, memahami materi lebih baik dalam bentuk lisan (seminar, diskusi, instruksi verbal, belajar kelompok) dan mengerjakan tugas lebih baik dalam bentuk lisan, serta senang musik dan bahasa.
Kiat belajar yang dapat diterapkan antara lain belajar dengan membaca materi, mengingat menggunakan asosiasi kata dan pengulangan verbal, belajar berkelompok, berdiskusi membicarakan materi, serta mendengarkan rekaman materi pelajaran secara berulang.
3. Cara belajar Kinestetik, yaitu belajar dengan cara bergerak dan melakukan, memahami materi lebih baik dengan bergerak, menyentuh, ekplorasi, membuat karya, hands-on activities, praktikum, field trips, serta senang olah raga, drama, menari, membuat karya.

Kiat belajar yang dapat diterapkan antara lain melakukan praktek, field trips, bermain peran, membangun, membuat karya, belajar dalam kelompok kecil, mengerjakan tugas secara bertahap dan menggunakan permainan daya ingat dan kartu-kartu, serta belajar dengan diiringi suara musik.
Oleh: Yelia Dini Puspita, M.Psi
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Mengasah Konsentrasi Pada Anak

konsentrasi1.jpgPosted : 02-08-2016
Bila kendala sulit berkonsentrasi tak segera ditangani, efeknya bisa berlanjut di usia sekolah.
P
agi itu kegiatan di sekolah adalah mewarnai. Bertempat di halaman, anak–anak menggelar meja kecil. Mereka membawa krayon sendiri. Begitu kertas bergambar dibagikan, masing–masing anak segera membuka kotak krayon lalu mengerjakan tugasnya. Tak seperti teman–teman lain yang sibuk menggoreskan krayon, Andi tampak “gelisah”. Beberapa saat ia mencoba mewarnai gambar, tapi kemudian menoleh kiri–kanan dan teman dibelakangnya. Usia itu, perhatiannya kembali ke kertas gambarnya, mencoba mewarnai. Tapi beberapa menit selanjutnya kembali tampak gelisah. Ada apa gerangan?

Yang dialami Andi kemungkinan adalah kurang mampu berkonsentrasi. Konsentrasi adalah kemampuan untuk memusatkan atau mempertahankan perhatian pada sesuatu hal dalam rentang waktu tertentu. Nah, untuk mengetahui seberapa lama rentang waktu kemampuan konsentrasi seseorang, rumusnya adalah 3–5 menit dikalikan usia. Jadi, pada anak usia 4 tahun, misal, kemampuan berkonsentrasi idealnya adalah 12–20 menit. Anak yang mencapai batas minimal rentang waktu tersebut (12 menit) boleh dibilang kurang bisa berkonsentrasi.
EKSTERNAL DAN INTERNAL
Secara umum, ada dua faktor penyebab sehingga si usia prasekolah kurang memiliki kemampuan dalam mempertahankan perhatian untuk jangka waktu tertentu.
1.     Faktor eksternal, yaitu faktor dari luar/lingkungan. Ada beberapa kemungkinan, misalnya ketika sedang melakukan aktivitas mewarnai di rumah, ia diganggu adiknya, atau konsentrasinya terpecah oleh suara–suara, baik itu  bersumber dari radio maupun TV, dan sebagainya. Alhasil, konsentrasinya ikut terganggu.
2. Faktor internal, yaitu faktor dari dalam diri anak sendiri. Ada beberapa kemungkinan, diantaranya :
·        Pada saat itu anak sedang lelah, lapar atau mengantuk sehingga kurang bisa berkonsentrasi pada apa yang dilakukannya.
·      Anak tak menyukai atau bosan dengan kegiatan tersebut sehingga berusaha mencari sesuatu yang lebih menarik.
·        Anak sedang sakit. Kondisi tidak fit bisa memengaruhi tingkat konsentrasinya.
·        Anak sedang menjalani pengobatan. Beberapa obat memiliki efek samping mengantuk.
NORMAL ATAU TIDAK?
Nah, hal–hal yang disebutkan diatas adalah kendala kemampuan berkonsentrasi dalam koridor anak yang normal sehingga tentu bukan sesuatu masalah yang cukup serius. Berbeda dari kendala berkonsentrasi yang sudah masuk kategori gangguan, seperti pada anak–anak yang mengalami hiperaktif, mereka cenderung sulit memusatkan perhatian dan berkonsentrasi.
Meski bukan gangguan serius, akan tetapi kurang konsentrasi ini tak boleh dibiarkan berlarut–larut. Tanpa penanganan apa pun, masalah ini bisa menetap sampai usia selanjutnya dan semakin sulit untuk ditangani. Ketika anak memasuki sekolah dasar, ia akan mengalami kesulitan terkait dengan cara pembelajarannya yang berbeda dari ketika TK.
Saat di SD anak makin dituntut untuk bisa berkonsentrasi. Dalam posisi “duduk manis”, murid SD diminta menyimak penjelasan guru, lalu menulis atau mengerjakan tugas dalam rentang waktu yang lebih panjang. Tugas–tugas atau PR tentunya juga membutuhkan tingkat konsentrasi lebih.
Bila kendala berkonsentrasi di usia prasekolah tidak tertangani, bisa dibayangkan bagaimana kendala–kendala yang mungkin terjadi di usia sekolah, bukan? Tugas–tugas yang diemban sekolah bisa terbengkalai, tidak terselesaikan, bahkan efek lain dari sulit berkonsentrasi adalah anak menjadi seperti “pelupa” benda–benda miliknya sering ketinggalan bahkan hilang lantaran rentang perhatiannya yang kurang, pikirannya bercabang, tidak bisa fokus, serta tidak memerhatikan hal–hal secara detail. 
TANDA KURANG KONSENTRASI
Apa ciri–ciri anak kurang memiliki konsentrasi? Berikut diantaranya :
·        Perhatikan berapa lama rentang konsentrasi yang sanggup ia penuhi. Rentang konsentrasi anak 4 tahun sekitar 12 menit dan si 5 tahun minimal 15 menit. Bila kurang dari waktu tersebut, meski tak perlu terlalu dikhawatirkan namun tetap perlu diwaspadai. Ketahui faktor penyebabnya, apakah eksternal atau internal.
·        Perhatikan juga apakah ia sering gonta–ganti alat permainan dalam rentang waktu yang singkat. Selain karena permainan itu tak menarik perhatian, ada kemungkinan ia memang kurang dapat berkonsentrasi dengan kegiatannya.
·        Ketika anak diajak bicara, perhatikanlah, apakah ia dapat memusatkan perhatian pada apa yang kita ucapkan. Kemudian coba beri instruksi, apakah ia mampu mengikutinya.
·        Perhatikan apakah memang ia tergolong anak yang cenderung tak bisa diam, banyak melakukan aktivitas fisik, punya minat yang banyak, sehingga memang tak tahan kalau harus berdiam dalam waktu tertentu.
·      Ingatlah, setiap anak memiliki gaya belajar tersendiri, ada yang audio, visual, kinestetik, dan lainnya. Mungkin saja anak sebetulnya memiliki gaya belajar kinestetik sehingga ketika diminta duduk manis dan mendengarkan penjelasan guru, ia selalu tampak “gelisah”.
STIMULASI BERKONSENTRASI
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh orangtua maupun pihak sekolah agar anak bisa berkonsentrasi.
Di rumah :
·         Mengkondisikan area bermain atau area belajar anak. Umpama, ketika anak bermain/belajar, hindari hal–hal yang dapat menganggu konsentrasinya, seperti suara teve.
·        Ajak anak melakukan rutinitas. Jam berapa ia bermain, jam berapa harus “belajar”, dan lainnya. Rutinitas secara otomatis akan membuatnya belajar berkonsentrasi atas apa yang dilakukannya.
·     Beri  permainan  yang  intruktif. Misal, bermain mengikuti gerakan yang kita lakukan, “Mana telinga? Mana hidung? Mana rambut?” Buatlah sedemikian rupa agar apa yang kita peragakan tak sesuai dengan yang kita katakan. Saat kita katakan “Mana hidung?” Namun kita memegang rambut, misal.
·   Pasel atau kegiatan mewarnai gambar juga dapat mengasah kemampuan konsentrasi si usia prasekolah. Sementara kegiatan nonton teve perlu dibatasi karena sifatnya yang membuat anak pasif.
·    Kombinasikan waktu antara istirahat, bermain, dan “belajar” sehingga anak memiliki waktu mengistirahatkan pikirannya dan bisa kembali fokus.
Di sekolah :
·         Memperhatikan rasio guru dan anak. Idealnya guru menangani 10 anak sehingga murid bisa terperhatikan dan guru dapat benar–benar mengamati apakah murid bisa berkonsentrasi pada pelajaran di kelas atau tidak. Jumlah murid diatas 15 dalam satu kelas umumnya membuat guru kesulitan dalam memberi perhatian yang optimal.
·   Perhatikan jenis kegiatan murid. Hindari pembelajaran satu arah, tetapi ajak anak untuk melakukan beragam aktivitas. Selain mengasah konsentrasi, juga aspek–aspek perkembangan seperti motorik halus dan kasar, dan lainnya.
·     Atur kegiatan dalam rentang waktu tertentu, misalnya mendengarkan instruksi guru 3 menit, selanjutnya aktivitas 10 menit, setelah itu dilakukan beragam kegiatan.
Sekali lagi, anak–anak prasekolah memang masih memiliki rentang konsentrasi yang relatif singkat ketimbang orang dewasa. Jadi, wajar saja bila ia sedikit kurang konsentrasi dan umumnya dapat distimulasi dengan langkah–langkah di atas. Namun bila rentang konsentrasi anak dicurigai amat rendah, mengonsultasikan kondisinya pada ahli tentu merupakan langkah yang amat bijak. (Nakita)
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

KEPUASAN KERJA - Teori Kepuasan Kerja menurut para ahli dan aspek-aspek serta dimensi dari Kepuasan Kerja

Posted: 02-08-2016

Kepuasan Kerja ( Job Satisfaction )

 
Kepuasan kerja ada;ah bentuk perasaan dan ekspresi seseorang ketika mampu atau tidak mampu memenuhi harapan dari proses kerja dan kinerjanya. Kepuasan kerja adalah suatu keadaan emosional yang menyenangkan yang dihasilkan dari penilaian pekerjaan atau pengalaman kerja .

Wexley dan Yukl mengartikan kepuasan kerja sebagai “ the way an employee feels about his or her job”. Artinya bahwa kepuasan kerja adalah cara pegawai merasakan dirinya atau pekerjaannya, dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja adalah perasaan yang menyokong atau tidak menyokong dalam diri pegawai yang berhubungan dengan pekerjaan maupun kondisi dirinya.

Definisi kepuasan kerja

Davis dan Werther mengatakan bahwa kepuasan kerja adalah keadaan yang menyenangkan atau tidak menyenangkan dimana para karyawan memangdang pekerjaan mereka. Serta kepuasan kerja adalah tingkat dimanan individu merasakan positif atau negative tentang suatu pekerjaan.
Robbins (2001) mengemukakan bahwa kepuasan kerja adalah sebagai suatu sikap umum seorang individu terhadap pekerjaannya. Pekerjaan menurut interaksi dengan rekan sekerja dan atasan, mengikuti aturan dan kebijakan organisasi, memenuhi standar kinerja, hidup pada kondisi kerja yang sering kurang dari ideal, dan hal serupa lainnya.

Gibson, Ivanevich dan Donnely mengatakan  bahwa kepuasan kerja adalah ungkapan perasaan seseorang tentang kesejahteraanuntuk melakukan pekerjaan bahwa kepuasan kerja adalah  sikap seseorang terhadap pekerjaan. Bahwa sikap itu berasal dari persepsi mereka tentang pekerjaan, persepsi itu adalah proses kognitif (pemberian arti)yang digunakan oleh seseorang untuk menafsirkan dan memahami cara pandang individu dalam melihat hal yang sama dengan cara yang berbeda. Kepuasan kerja juga adalah sebagai hasil dari persepsi karyawan mengenai seberapa baik pekerjaan merekadan memberikan hal yang dinilai penting.

Koesmono (2005) mengemukakan bahwa kepuasan kerja merupakan penilaian, perasaan atau sikap seseorang atau karyawan terhadap pekerjaannya dan berhubungan dengan lingkungan kerja dan sebagainya. Sehingga dapat dikatakan bahwa kepuasan kerja adalah dipenuhinya beberapa keinginan dan kebutuhannya melalui kegiatan kerja atau bekerja.

Berdsasarkan pendapat para ahli mengenai definisi konsep kepuasan kerja dan menurut hemat penulis, kepuasan kerja adalah sikap positif dan perasaan yang menyenangkan erhadap pekerjaan, gaji, supervise, rekan kerja  dan hal-hal yang menyangkut dunia kerjanya.

Teori kepuasan kerja menurut Wexle dan Yukl

a.     Discrepancy theory
Teori ini mengukur kepuasan kerja seseorang dengan menghitung selisih antara apa yang seharusnya dengan kenyataan yang dirasakan.
b. Equity theory
Prinsip dari teori ini adalah bahwa orang akan merasakan adanya keadilan (equity) atau tidak atas suatu situasi. Perasaan equity dan inequityatas suatu situasi.

Ada tiga elemen dari teori equity  yaitu :
  •  Input adalah segala sesuatu yang berharga yang dirasakan karyawan sebagai sumbangan terhadap pekerjaan.
  •  Out comes segala sesuatu yang berharga, yang dirasakan karyawan sebagai “hasil” dari pekerjaannya.   
  • Comparison person adalah kepada orang lain dengan siapa karyawan  membandingkan rasio input-out comes yang dimiliknya.

c. Two factor theory
Menurut Herzberg (dalam Munandar, 2001) teori kepuasan kerja yang ia namakan teori dua faktor terdiri dari faktor hygienedan faktor motivator.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja

Beberapa ahli berpendapat mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja. Faktor–faktor kepuasan kerja menurut Greenberg & Baron (1995) ada 2 faktor yaitu:

a.Faktor-faktor organisasional
1)Sistem penggajian
2) Kualitas dari supervisi
3). Desentralisasi kekuasaan
4). Tingkat kerja dan dorongan sosial
5). Kondisi kerja yang menyenangkan
b. Faktor Personal
1). Variabel kepribadian
2). Status dan senioritas
3). Pekerjaan yang sesuai dengan minat
4). Kepuasan hidup
Selanjutnya Robbins (1996) menjelaskan lagi beberapa faktor yang
mempengaruhi kepuasan kerja diantaranya :
a. Tantangan kerja
b. Sistem gaji yang adil
c. Kondisi kerja yang mendukung
d. Rekan kerja yang mendukung
Menurut Spector (1997) aspek-aspek kepuasan kerja ada 2 faktor yaitu instrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor-faktor ini dijadikan sebagai indikator dalam penelitian ini dalam skala kepuasan kerja.
  • Factor Interinsik
1. Activity : Seberapa jauh pekerjaan  tersebut tetap dapat meyibukkan individu
2. Independence : Kewenangan untuk dapat bekeja sendiri
3. Variety : Kesempatan untuk melakukan pekerjaan yang berbeda-beda
4. Social status : Pengakuan masyarakat luas tentang status pekerjaan
5. Moral values : Pekerjaan tidak berhubungan dengan segala sesuatu yang dapat mengganggu hati nurani
6. Security Kepastian kerja yang diberikan
7. Social service : Kesempatan untuk membantu orang lain mengerjakan tugas
8. Authority : Memiliki kekuasaan terhadap orang lain
9. Ability utilization : Kesempatan untuk menggunakan kemampuan yang ada
10. Responsibility :Tanggung jawab dalam membuat keputusan dan tindakan
11. Creativity : Kebebasan untuk mengungkapkan ide yang baru
12. Achievement : Perasaan yang didapat ketika menyelesaikan suatu tugas
Aspek dan factor Eksterinsik
1. compensation Besarnya imbalan atau upah yang diterima
2. Advancement ; Kesempatan untuk memperoleh promosi
3. Coworkers ; Seberapa baik hubungan antara sesama rekan kerja
4. Human relations supervisions : Kemampuan atasan dalam menjalin hubungan interpersonal
5. Technical supervisions : Kemampuan atau skill atasan menyangkut segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan
6. Company policies and practice : Seberapa jauh perusahaan menyenangkan para pekerja
7. Working conditions : Kondisi pekerjaan seperti jam kerja, temperatur, perlengkapan kantor serta lokasi pekerjaan
8. Recognition : Pujian yang diperoleh ketika menyelesaikan pekerjaan yang baik.


 Ada lima  komponen utama  kepuasan kerja yaitu: 

1)  Sikap terhadap kelompok kerja
2)  Kondisi umum pekerjaan
3)  Sikap terhadap perusahaan
4)  Keuntungan secara ekonomi
5)  Sikap terhadap manajemen
Dimensi dan Aspek-aspek kepuasan kerja 

Berdasarkan konsep para hali terdapat tiga dimensi dalam kepuasan kerja yaitu; 
 1) Kepuasan kerja merupakan respion emosional terhadap situasi kerja maka  dengan demikian bahwa kepuasan kerja dapat dilihat dan diduga.

2)Kepuasan kerja sering dituntut menurut seberapa baik hasil yang dicapai yang memenuhi atau melampaui harapan. Misalnya jika seorang anggota oraganisasi merasa bahwa mereka bekerja terlalu keras dari pada yang lain dalam suatu department tetapi meneroma penghargaan lebih sedikit maka mungkin mereka makan memiliki sikap negatif pada perusahaan. rekan kerja dan mereka tidak puas. serta sebaliknya.

3) Kepuasan kerja mewakili sikap yang berhubungan selama bertahun-tahun.Luthans (2005) menyatakan bahwa ada sejumlah faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja. Hal-hal utama dengan mengingat dimensi-dimensi paling penting yaitu gaji, pekerjaan itu sendiri, promosi, pengawasan, kelompok kerja dan kondisi kerja.


  5 DIMENSI KEPUASAN KERJA

  Nelson and Quick   (2006) mengungkapkan bahwa kepuasan kerja dipengaruhi 5 dimensi  spesifik dari pekerjaan yaitu gaji, pekerjaan itu sendiri, kesempatan promosi, supervisi dan rekan kerja.
  •  Gaji : sejumlah upah yang diterima dan tingkat dimana hal ini bisa diangap sebagai hal yang pantas dibandingkan dengen orang lain di dalam organisasi. Karyawan memandang gaji sebagai refleksi dari bagaimana manajemen memandang kontribusi mereka terhadap perusahaan. 
  • Promosi merupakan factor yang berhubungan dengan ada atau tidaknya kesempatan memperoleh peningkatan karier selama bekwerja. Kesempatan inilah yang memiliki pengaruh yang berbeda pada kepuasan kerja.
  • Supervise merupakan kemampuan atasan untuk memberikan bantuan teknis dan dukungan prilaku kepada bawahan yang mengalami permasalahan dalam pekerjaan.
  • Rekan Kerja merupakan tungakat dimana rekan kerja yang pandai dan mendukung secara social merupakan factor yang berhubungan dengan hubungan antara pegawai dan atsannya dan dengan pegawai lainnya baik yang sama maupun yang berbeda jenis pekerjaan.

Aspek aspek Kepuasan kerja
a.     Aspek Psikologis yang berhubungan dengan kejiwaandan minat, ketentraman kerja dan sikap kerja, bakat dan ketrampilan dari karyawan.
b.    Aspek social berhubungan dengan interaksi social baik antar sesame karyawan maupun antar karyawan yang berbeda jenis kerja serta hubungan dengan anggota keluarga.
c.     Aspek fisi berhungbungan dengan kondisi tubuhnya meliputi juga jenis pekerjaanya pengaturan kerja, pengaturan waktu istirahat dan keadaan ruangan, kondisi kesehatan dan umur.
d.    Aspek Finasial berhubungan dengan jaminan ddan kesejatheraan yang melipti system besaran gaji, jaminan social, tunjangan faislitas dan promosi.

·       Komitmen Organisasi
·       Organanizational Behavior adalah ketika individu membantu individu lain secara berhati-hati tanpa mengharapkan peghargaan dengan asas asasnya yaitu mengutamakan orang lain, kehormatan, ketilitian, Civic virtue, Peace making.
·       Employee Well-Being yaitu kepuasan kerja mempengaruhi kesejahteraan karyawanpersaan bahagia , sehat, sukses seorang karyqawan adalah konsekuensi kepuasan kerjanya.
·       Stress Kerja selain konsekuensi dari job satisfaction yaitu orang yang tidak puas akan mengalami stress kerja tinggi yang diistilahkan dengan distress dan sebaliknya eustress untuk yang memiliki kepuasan kerja.
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Pengertian Loyalitas dan Serba-Serbi Pengertian Loyalitas Karyawan

ILUSTRASI PENGERTIAN LOYALITAS (KOKO/ UCEO)
Posted: 01-08-2016
You cannot buy loyalty; you cannot buy the devotion of heart, minds, and souls. You have to earn these things” – Clarence Francis
 PENGERTIAN LOYALITAS
Jika terdapat sebuah pertanyaan “Hal apa yang tidak dapat dibeli dengan uang?”, mungkin beberapa orang akan menyebutkan cinta, kebahagiaan, atau waktu sebagai jawabannya. Ketiga hal tersebut memang tidak dapat dibeli dengan uang, namun ada satu hal lagi yang terkadang luput dari perhatian orang banyak, yakni loyalitas. 
Loyalitas adalah salah satu hal yang tidak dapat dibeli dengan uang. Loyalitas hanya bisa didapatkan, namun tidak bisa dibeli. Mendapatkan loyalitas dari seseorang bukanlah sesuatu pekerjaan yang mudah untuk dilakukan. Berbanding terbalik dengan kesulitan mendapatkannya, menghilangkan loyalitas seseorang justru menjadi hal yang sangat mudah untuk dilakukan. 
Sebelum kita berbicara lebih jauh mengenai loyalitas, terlebih dahulu kita harus tahu apa pengertian loyalitas. Loyalitas memiliki kata dasar loyal yang berasal dari bahasa Prancis kuno loial. Menurut Oxford Dictionary, pengertian loyalitas adalah the quality of being loyaldimana loyal didefinisikan sebagai giving or showing firm and constant support or allegiance to a person or institution. Jika diartikan secara bebas, pengertian loyalitas menurut Oxford Dictionary adalah mutu dari sikap setia (loyal), sedangkan loyal didefinisikan sebagai tindakan memberi atau menunjukkan dukungan dan kepatuhan yang teguh dan konstan kepada seseorang atau institusi. Sementara itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia menerangkan pengertian loyalitas sebagai kepatuhan atau kesetiaan. 
Loyalitas merupakan suatu hal yang bersifat emosional. Untuk bisa mendapatkan sikap loyal seseorang, terdapat banyak faktor yang akan memengaruhinya. Sikap loyal dapat diterapkan oleh setiap orang dalam berbagai hal. Dari sekian banyak studi mengenai pengertian loyalitas, hanya satu kategori pengertian loyalitas yang akan kita bahas dalam artikel ini. Kategori pengertian loyalitas tersebut adalah pengertian loyalitas karyawan. 

PENGERTIAN LOYALITAS KARYAWAN

Setiap perusahaan pasti menginginkan adanya sikap loyal pada karyawan mereka. Pengertian loyalitas karyawan sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pengertian loyalitas secara umum. Dalam pengertian loyalitas karyawan, kesetiaan menjadi poin utama yang dapat diberikan karyawan kepada perusahaan tempatnya bekerja. Sayangnya, pengertian loyalitas karyawan kadang masih disalahartikan oleh beberapa orang, baik oleh pihak karyawan, manajemen, maupun oleh pimpinan perusahaan. 
Orang-orang seringkali menyangkut pautkan pengertian loyalitas dengan seberapa lama dan banyaknya waktu serta tenaga yang dicurahkan oleh seorang karyawan untuk bekerja tanpa mengharapkan imbalan apapun dari perusahaan. Padahal kenyataannya, banyak karyawan yang bertahan di suatu perusahaan hanya karena gaji atau bonus yang diterimanya. Pengertian loyalitas identik dengan kesetiaan yang semestinya dilakukan dalam berbagai kondisi tanpa syarat dan tanpa mengharapkan adanya balasan. Loyalitas merupakan kondisi psikologis yang mengikat karyawan dan perusahaannya, karenanya pengertian loyalitas karyawan bukan hanya sekadar kesetiaan fisik yang tercermin dari seberapa lama seseorang berada di dalam organisasi, namun dapat diliat dari seberapa besar pikiran, perhatian, gagasan, serta dedikasinya tercurah sepenuhnya kepada perusahaan tersebut. 
Saat ini pengertian loyalitas karyawan bukan lagi sekadar merujuk pada kemampuan karyawan menjalankan tugas-tugas serta kewajibannya yang sesuai dengan job description, melainkan berbuat seoptimal mungkin untuk menghasilkan yang terbaik bagi perusahaan tersebut. 
ILUSTRASI ASPEK LOYALITAS KARYAWAN (KOKO/ UCEO)
ILUSTRASI ASPEK LOYALITAS KARYAWAN (KOKO/ UCEO)

ASPEK-ASPEK LOYALITAS KARYAWAN

Untuk mengetahui apakah seorang karyawan loyal terhadap perusahaan. Terdapat beberapa aspek yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk mengukur loyalitas karyawan tersebut. Aspek-aspek loyalitas kerja yang terdapat pada seorang karyawan antara lain:

1. Taat pada peraturan.

Seorang karyawan yang loyal akan selalu taat pada peraturan. Sesuai dengan pengertian loyalitas , ketaatan ini timbul dari kesadaran karyawan jika peraturan yang dibuat oleh perusahaan semata-mata disusun untuk memperlancar jalannya pelaksaan kerja perusahaan. Kesadaran ini membuat karyawan akan bersikap taat tanpa merasa terpaksa atau takut terhadap sanksi yang akan diterimanya apabila melanggar peraturan tersebut.

2. Tanggung jawab pada perusahaan/organisasi.

Ketika seorang karyawan memiliki sikap sesuai dengan pengertian loyalitas, maka secara otomatis ia akan merasa memiliki tanggung jawab yang besar terhadap perusahaannya. Karyawan akan berhati-hati dalam mengerjakan tugas-tugasnya, namun sekaligus berani untuk mengembangkan berbagai inovasi demi kepentingan perusahaan.

3. Kemauan untuk bekerja sama.

Karyawan yang memiliki sikap sesuai dengan pengertian loyalitas, tidak segan untuk bekerja sama dengan karyawan lain. Bekerja sama dengan orang lain dalam suatu kelompok memungkinkan seorang karyawan mampu mewujudkan impian perusahaan untuk dapat mencapai tujuan yang tidak mungkin dicapai oleh seorang karyawan secara invidual.

4. Rasa memiliki

Adanya rasa ikut memiliki karyawan terhadap perusahaan akan membuat karyawan memiliki sikap untuk ikut menjaga dan bertanggung jawab terhadap perusahaan sehingga pada akhirnya akan menimbulkan sikap sesuai dengan pengertian loyalitas demi tercapainya tujuan perusahaan.

5. Hubungan antar pribadi

Karyawan yang memiliki loyalitas kerja tinggi akan mempunyai hubungan antar pribadi yang baik terhadap karyawan lain dan juga terhadap atasannya. Sesuai dengan pengertian loyalitas, hubungan antar pribadi ini meliputi hubungan sosial dalam pergaulan sehari-hari, baik yang menyangkut hubungan kerja maupun kehidupan pribadi.

6. Kesukaan terhadap pekerjaan

Sebagai manusia, karyawan pasti akan mengalami masa-masa jenuh terhadap pekerjaan yang dilakukannya setiap hari. Seorang karyawan yang memiliki sikap sesuai dengan pengertian loyalitas akan mampu menghadapi permasalahan ini dengan bijaksana. Hal ini hanya dapat dilakukan apabila seorang karyawan mencintai pekerjaannya.

PENYEBAB TURUNNYA LOYALITAS KARYAWAN

Seperti yang telah dijabarkan pada awal tulisan, pengertian loyalitas adalah suatu hal yang sulit untuk diciptakan namun mudah untuk dihilangkan. Seorang karyawan yang baru masuk dalam sebuah perusahaan memerlukan waktu untuk dapat menjadi loyal sesuai dengan pengertian loyalitas. Akan tetapi, sikap loyal yang sesuai dengan pengertian loyalitas tersebut dapat tiba-tiba hilang apabila seorang karyawan merasa “dikecewakan” oleh perusahaan. 
Setidaknya terdapat tiga faktor yang dapat menjadi penyebab turunnya loyalitas karyawan sesuai dengan pengertian loyalitas, yakni:

a. Faktor rasional

Faktor rasional turunnya loyalitas karyawan mengacu pada hal-hal yang dapat dijelaskan secara logis. Faktor-faktor rasional yang menjadi penyebab turunnya loyalitas karyawan sesuai dengan pengertian loyalitas antara lain gaji, bonus, jenjang karir, dan fasilitas-fasilitas yang diberikan perusahaan kepada karyawan.

b. Faktor emosional

Faktor emosional turunnya loyalitas karyawan mengacu pada hal-hal yang menyangkut perasaan atau ekspresi diri. Faktor-faktor emosional yang menjadi penyebab turunnya loyalitas karyawan sesuai dengan pengertian loyalitas antara lain pekerjaan yang dinilai kurang menantang, lingkungan kerja yang tidak kondusif, perasaan was-was terhadap keberlangsungan hidup perusahaan, ketidakcocokan karyawan denganpemimipin, pekerjaan yang dinilai tidak prestige, serta kurangnya penghargaan perusahaan terhadap prestasi kerja karyawan.

c. Faktor kepribadian

Faktor kepribadian sebagai penyebab turunnya loyalitas karyawan mengacu pada hal-hal yang sifat pribadi karyawan. Faktor-faktor kepribadian  yang menjadi penyebab turunnya loyalitas karyawan sesuai dengan pengertian loyalitas antara lain adalah sifat mudah bosan dan ketidakcocokan karyawan dengan budaya kerja di suatu perusahaan. 

INDIKASI-INDIKASI TURUNNYA LOYALITAS KARYAWAN

a. Rendahnya produktivitas kerja

Indikasi pertama turunnya loyalitas kerja sesuai dengan pengertian loyalitas karyawan adalah adanya penurunan produktivitas kerja karyawan, Penurunan ini dapat diukur dengan membandingkan produktivitas kerja saat ini dengan produktivitas pada waktu sebelumnya. Beberapa hal penyebab turunnya produktivitas kerja sesuai dengan pengertian loyalitas karyawan antara lain karena adanya kemalasan atau sikap karyawan yang cenderung menunda-nunda pekerjaan

b. Tingkat absensi yang naik

Ketika loyalitas kerja sesuai dengan pengertian loyalitas karyawan menurun, biasanya karyawan akan malas untuk datang ke tempat kerja. Hal ini dapat dideteksi dengan naiknya jumlah absen karyawan dibandingkan dengan jumlah absen di bulan-bulan sebelumnya.

c. Tingkat perpindahan buruh yang tinggi

Tingkat perpindahan atau keluar masuknya karyawan yang tinggi mengindikasikan adanya sesuatu yang salah pada suatu perusahaan. Banyaknya karyawan yang merasa tidak cocok bekerja di perusahaan tersebut menandakan jika sistem manajemen perusahaan tidak sesuai dengan sistem yang diharapkan oleh karyawannya. Tingkat perpindahan karyawan yang tinggi akan merugikan pihak perusahaan karena dapat menurunkan produktivitas kerja dan dapat memengaruhi secara langsung kelangsungan hidup perusahaan tersebut.

d. Muncul kegelisahan

Loyalitas kerja sesuai dengan pengertian loyalitas karyawan yang menurun dapat menimbulkan munculnya kegelisahan di kalangan para karyawan. Seorang pemimpin semestinya peka terhadap isu dan kegelisahan-kegelisahan yang muncul di kalangan para karyawan. Dengan mengetahui keluh kesah karyawan, seorang pemimpin dapat mencegah turunnya loyalitas kerja sesuai dengan pengertian loyalitas karyawan di sebuah perusahaan.

e. Tuntutan yang sering terjadi

Tuntutan yang sering terjadi dari kalangan karyawan sebenarnya adalah bentuk perwujudan dari ketidakpuasan karyawan terhadap perusahaan. Pada tahap tertentu, ketidakpuasan tersebut akan memunculkan keberanian karyawan untuk mengajukan tuntutan kepada perusahaan tempatnya bekerja.

f. Pemogokan kerja

Wujud paling ekstrem dari penurunan loyalitas kerja sesuai dengan pengertian loyalitas karyawan kepada perusahaan adalah terjadinya pemogokan kerja. Apabila karyawan merasa suaranya tidak lagi didengar, maka ketidakpuasan mereka akan memuncak dan akhirnya menimbulkan munculnya gerakan mogok kerja.

CARA MENGATASI PENURUNAN LOYALITAS KARYAWAN

Penurunan loyalitas kerja sesuai dengan pengertian loyalitas karyawan bukan berarti akhir bagi hubungan karyawan dan perusahaan tempatnya bekerja. Sebuah perusahaan dapat mengatasi penurunan loyalitas kerja sesuai dengan pengertian loyalitas karyawan dengan mewujudkan harapan-harapan serta memenuhi kebutuhan-kebutuhan para karyawan yang sempat terabaikan sebelumnya. Beberapa cara mengatasi penurunan loyalitas kerja sesuai dengan pengertian loyalitas karyawan antara lain:
  1. Memberikan gaji yang cukup
  2. Memberikan kebutuhan rohani
  3. Sesekali perlu menciptakan suasana santai
  4. Menempatkan karyawan pada posisi yang tepat
  5. Memberikan kesempatan pada karyawan untuk maju
  6. Memperhatikan rasa aman untuk menghadapi masa depan
  7. Mengusahakan karyawan untuk mempunyai loyalitas. Sesekali mengajak karyawan berunding
  8. Memberikan fasilitas yang menyenangkan
ILUSTRASI PENGERTIAN LOYALITAS (KOKO/ UCEO)
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين